Langsung ke konten utama

Ulasan The Tinder Swindler, Sebuah Karya Jurnalistik Investigasi

 


The Tinder Swindler merupakan sebuah karya jurnalistik investigasi. The Tinder Swindler bercerita tentang penipuan beberapa wanita yang dilakukan oleh Simon Leviev yang berawal dari aplikasi Tinder. Menurut saya, penyajian investigasi The Tinder Swindler cukup unik dan berbeda. VG, pembuat The Tinder Swindler, menyajikannya dalam bentuk tulisan dan video yang dapat dibaca dan dinikmati dalam waktu singkat.

            Menurut saya, informasi yang ada di The Tinder Slinder cukup detail. VG mampu mengulik informasi tersebut dengan baik. Cecilie, seorang wanita yang ditipu oleh Simon, menceritakan semua kronologisnya dengan runut. Ia bercerita mulai dari awal ketika bertemu Simon hingga akhirnya ia merasa bahwa hubungannya dengan Simon tidak sehat karena didasarkan pada uang setelah meminjamkan uang dengan jumlah yang besar.

            Di kesempatan berikutnya, VG bekerja sama dengan jurnalis Israel, Uri Blau, untuk menelusuri keberadaan Simon. Mereka mengunjungi rumah Simon dan sempat bertemu dengan ibunya. Selain itu, mereka juga mengunjungi kantor polisi setempat untuk mendapatkan informasi. Akhirnya diketahui bahwa Simon sudah lama tidak menjalin kontak dengan ibunya dan telah terlibat banyak kasus penipuan sejak tahun 2011.

            VG bekerja sama dengan Pernilla Sjoholm, seorang wanita yang tertipu setelah Cicilie. Informasi tentang Pernilla didapatkan dari keterangan bank bahwa uang Cecilie digunakan untuk membeli tiket pesawat untuk Pernilla. Pernilla yang merasa kecewa akhirnya memberi tahu segala rencana pertemuannya dengan Simon kepada VG. VG mengikuti Pernilla dan menemukan tanda kehadiran Simon. Pernilla akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya kepada Simon dan Simon marah karena hal tersebut. Simon ditangkap oleh polisi Yunani pada Juni 2019 dan diekstradisi ke Israel pada bulan Oktober.

            Bila dilihat dari cerita pemaparan cerita di atas, kronologis penipuan yang dilakukan Simon kepada beberapa orang terlihat sangat detail dan cukup memusingkan bagi beberapa orang. Akan tetapi, informasi tersebut perlu disampaikan kepada banyak orang—terutama para pengguna Tinder atau aplikasi serupa agar tidak mengalami penipuan. Oleh karena itu, VG selaku investigator harus mengemas berita mereka seringan mungkin agar mudah dinikmati. VG akhirnya memutuskan untuk mengemasnya dengan menggabungkan gambar, audio, text, dan video singkat yang dibagi menjadi beberapa slide.

Terdapat sekitar 58 slides yang menjelaskan kronologis penipuan yang diceritakan oleh Cecilie dan Pernilla serta hasil investigasi VG di Israel. Meskipun terbilang cukup banyak, namun pembaca dapat mengikuti kronologis tersebut dengan baik karena disajikan gambar, audio, dan video sehingga tidak monoton dan tidak membuat pembaca cepat merasa bosan. Penyajian yang dilakukan VG saya rasa cocok dengan kebiasaan para pengguna Tinder atau aplikasi sejenis yang tidak kuat jika hanya membaca tulisan dan harus diberikan bukti yang konkret.

Kedalaman informasi yang disajikan oleh VG juga memperkuat konten investigasi yang mereka buat. Mereka mengumpulkan foto, video, dan rekaman pembicaraan Cecilie dan Pernilla dengan Simon. Mereka juga menelusuri informasi dari bank dan terbang ke Israel. Berkat hal tersebut, investigasi yang mereka sajikan terasa lengkap dan bisa menampilkan bukti penipuan yang dilakukan oleh Simon dengan sangat baik.

Melalui penyajian yang sederhana, ringkas, dan tidak berbelit, VG mampu menunjukan bukti besarnya penipuan yang dilakukan oleh Simon kepada wanita-wanita yang ditemuinya. Karya jurnalisme investigasi yang dilakukan oleh VG dapat dikelompokan sebagai bentuk yang baru. Jika biasanya karya investigasi cenderung hanya menggunakan tulisan, namun kali ini VG mengemasnya dengan menghadirkan gambar, video, dan audio. Hal tersebut dapat membuat banyak orang akan lebih aware dengan kasus ini sekaligus memberi bukti bahwa modus penipuan super real yang dilakukan oleh Simon benar-benar ada. Pada akhirnya, masyarakat, terutama para remaja dan orang-orang yang mencari pasangan, diharapkan dapat semakin berhati-hati dalam bermain Tinder atau aplikasi serupa agar tidak menjadi korban penipuan.

Komentar